Pemerintah terus mendorong penguatan hubungan antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi lulusan agar semakin sesuai dengan kebutuhan industri. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, menyebutkan pemerintah telah melakukan terobosan untuk meningkatkan kompetensi lulusan sekolah agar sesuai dengan kebutuhan dunia industri. “Ada 3.574 kerja sama yang sudah dilakukan dengan industri terkait upaya revitalisasi vokasional SMK,” katanya, di Jakarta, Selasa (24/10). Tidak hanya di jenjang SMK, peningkatan kompetensi juga dilakukan pada jalur vokasi di jenjang pendidikan tinggi. Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pembangunan 4.493 ruang praktik. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengakui bahwa saat ini kompetensi lulusan perguruan tinggi masih sangat rendah. Bahkan saat di lapangan, kompetensi lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. “Akibatnya, industri harus melakukan pelatihan, setidaknya delapan bulan,” ujar dia. Nasir mengatakan peningkatan jumlah dan mutu politeknik secara drastis telah dilakukan untuk menambah kontribusi dunia industri di pendidikan tinggi. Dengan begitu, lulusan politeknik kompeten dan industri mendapat pasokan yang terampil. Tercatat, jumlah mahasiswa yang memperoleh sertifikasi kompetensi juga menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2015, jumlahnya sebanyak 2.527 dan pada 2017 meningkat tajam menjadi 12.333 mahasiswa. Diharapkan pada 2019 menjadi 15.600. Peningkatan jumlah juga tercatat atas dosen politeknik yang tersertifikasi. Tercatat, menurut Menristekdikti, dari angka 1.442 (2015) menjadi 3.836 dosen politeknik tersertifikasi pada 2017. Asah Kompetensi Dalam kesempatan terpisah Kepala Subdit Peserta Didik SMK Kemdikbud, Nur Widiyani, menambahkan, peningkatan kompetensi lulusan SMK juga dilakukan dengan mendorong siswanya untuk mengikuti ajang kompetensi bergengsi. “Salah satunya kami rutin ikut ajang World Skills Competition (WSC), tahun ini Tim SMK Indonesia berhasil meraih dua perak pada WSC,” kata Widiyani. Ke depan, kerja sama dengan pihak industri yang tengah digencarkan juga akan dimanfaatkan untuk menjadi tempat latihan agar raihan di WSC berikutnya dapat meningkat. Dari dua perak diraih, kategori Restaurant Service dipersembahkan oleh Andre Gilitasha dari SMKN 3 Malang dan untuk Kategori Prototipe Modeling oleh Rizki Dwi Afrianto dari SMKN 1 Purworejo. Indonesia juga meraih 12 Medallion for Excellence yang menandakan bakat pelajar SMK sudah tingkat dunia. “Dengan perolehan medali ini Indonesia di posisi 12 dari 59 negara,” sebut Widiyani. WSC diikuti oleh 1.300 pemuda terampil dari 59 negara yang berlaga di 51 bidang lomba keterampilan. Indonesia sendiri mengirimkan 31 pelajar SMK yang menang di Lomba Keterampilan Siswa untuk bertanding di 29 bidang. Sebagai bentuk penghargaan, katanya, Kemendikbud akan memberi uang 25 juta rupiah kepada peraih medali perak tersebut. Terkait keterlibatan industri dalam mengasah kompetensi peserta WSC, juga dilakukan sejumlah negara yang menjadi lawan terkuat di WSC, yakni Tiongkok dan Korea. Salah satunya juga karena ada ikatan kuat antara sekolah-sekolah menengah kejuruan dengan industri di negaranya. “Kita akan mempererat komunikasi dengan Kemenperin agar mudah mengundang industri untuk kerjasama dengan kita,” papar Widiyani. Proses penilaian pemenang melalui sistem WorldSkills yang digunakan untuk menilai kompetensi dan keahlian yang selanjutnya mereka masukkan ke dalam Sistem Informasi Persaingan (Competition Information System/CIS). Setiap perbedaan dalam hasil langsung ditangani oleh direktur kompetisi keterampilan dan administrator CIS. Begitu tanda dimasukkan ke dalam CIS, mereka terkunci, dan hasil sementara untuk kompetisi keterampilan individu dihasilkan.